“PERAWAT RIWAYATMU KINI ”

Catatan Kecil Ayah Retta

 


 

Entah judul apa yang saya tampilkan pada tulisan ini,yang jelas ini kaitannya dengan profesi dari istri saya “PERAWAT” . Saya sebenarnya pendengar yang baik dan lebih banyak mendenggar  tentang keluh dan kesah istri karena dengan mendengar saya lebih banyak belajar dan bisa menempatkan diri, meskipun terkadang memberikan komentar yang mungkin sebagai komentar seorang yang awam akan dunia  istri saya. Jujur sebenarnya suatu kebanggaan buat saya mempunyai istri “ PERAWAT”  mungkin perasaan ini muncul dan menguat ketika waktu kewaktu bersama istri saya baik dalam artian fisik maupun psikologis. Profesi ini sungguh terhormat buat saya, karena profesi inilah yang menuntut kesabaran, ketelitian, keuletan dan ketegasan dengan tuntutan tersebut terkadang membawa beban kerja yang luar biasa sampai terkadang  beban itu menjadi oleh-oleh buat saya dan anak saya ketika sampai dirumah, tetapi ini bukan sekedar  profesi tetapi  pekerjaan dengan hati, Mungkin sebelum saya menikah dengan istri saya, profesi ini biasa biasa saja buat saya, tetapi setelah bersama dan menyadari dan mendalami profesi ini sangatlah luar biasa ternyata, bahkan menjadi garda terdepan pada pelayanan kesehatan yang optimal, ibarat pasukan senantiasa terdepan yang siap untuk bertempur, begitu banyak resiko yang harus dihadapi sang prajurit karena berada garis terdepan melawan musuh yaitu infeksi, bakteri, kuman,dll  yang bisa juga menyerang dan menjadi ancaman buat kita. Ketika pasukan telah menang melawan musuh, sang komandanlah yang akan menerima promosi, bonus dll. Sungguh ironis terkadang buat saya, terkadang sebagian masyarakat juga memandang profesi ini hanya sebagai pemanis pelayanan kesehatan. Orang terkadang lebih mementingkan tujuan daripada proses, sang penggirim surat tidak pernah tau perjuangan sang penggantar surat untuk mengantarkan suratnya, yang ia tahu adalah sudahkah surat saya sampai !!?padahal tanpa perjuangan tukang pos, surat itu tidaklah sampai tujuan. Demikian juga sang pembeli buah, yang ia tahu rasa buah yang begitu manis dan bermanfaat buat mereka tanpa tahu merawat dan memelihara sang pohon, bagaimana menyirami, memupuk, menjaga dari serangan penyakit dlll. Itu hanya ilustrasi, terkadang kita terlalu remeh dalam memandang sesuatu dan menganggap tujuan adalah segala galanya, demikian juga ketika kita sembuh dari sakit setelah beberapa hari di Rumah sakit, pandangan selalu Wah dokternya hebat…! tanpa tau dan peduli yang merawatnya, yaitu sang “PERAWAT” padahal kita ketahui “ PERAWAT”lah yang tau Perkembangannya selama 24 jam. Kita ketahui 50% lebih pekerja kesehatan adalah “PERAWAT”  yang tersebar diberbagai pelosok dan pulau – pulau terpencil di indonesia ini mengingat wilayah nusantara yang begitu luas dan tak pelak profesi inilah yang sekarang bisa mengcovernya, mengingat keterbatasan dokter. Diberbagai daerah kita mendapati seorang ‘’PERAWAT’’ masuk penjara gara-gara menyalahi wewenang karena telah memberikan obat dan melakukan pertolongan medis lainnya, ini sungguh miris dan sedih buat saya dan seolah pemerintah bungkam dan membiarkan konflik kepentingan ini berkelanjutan seakan juga membiarkan kriminalisasi terhadap profesi ini. Wacana pembahasan tentang pengaturan profesi ini sebenarnya sudah bergulir lebih dari 20an tahun yang lalu, hal ini sebagai payung hukum yang senantiasa melindungi “PERAWAT “ dan masyarakat. Setelah reformasi draff RUU Keperawatan ini muncul pada periode legislatif 2004-2009 dimana RUU ini telah masuk pada Program Legislasi Nasional (PROLEGNAS) prioritas dengan nomor urut 160 dari 250an lebih dengan masa 2004-2009. Tetapi ga tau kenapa rancangan ini seolah mati suri dan tanpa gema, seolah hilang kemana.Tahun 2010 rancangan ini hilang,dan tergantikan RUU NAKES yang muncul tiba’’. Alhamdullilah di tahun 2011 RUU Keperawatan masuk PROLEGNAS dengan  nomor urut prioritas ke 19. Ada beberapa hal yang ada dalam benak saya, positif thinking saya adalah mungkin ada RUU yang lebih penting dan berat dan alot untuk dibahas, dan sehingga kaum “PERAWAT” harus bersabar. Negatif thingking saya, ketidak seriusan pejabat legislatif dan pemerintah dalam hal ini Kementrian Kesehatan yang tidak mendorong Goalnya RUU Keperawatan,dalam benak saya jangan –jangan ada konflik kepentingan sehingga menghambat proses ini. Sempat saya melihat berita pada bulan kemaren, dimana mahasiswa Keperawatan melakukan aksi di gedung DPR RI dan terjadilah dialog antara anggota DPR RI dan mahasiswi Keperawatan yang intinya menuntut pengesahan UU Keperawatan. Anggota DPR ini berasal dari partai penguasa saat ini,  sampai sang anggota DPR RI memamerkan gelarnya dan profesinya, dia adalah seorang dokter senior juga dan menjadi pengajar di fakultas kedokteran dan keperawatan dengan jelas anggota tersebut mendebatkan RUU tersebut, bahkan menjawab Apakah Amerika punya undang undang keperawatan?ga ada…sembari menoleh ke rekannya!  Di negara Asean hanya indonesia dan Myanmar yang belum punya UU Keperawatan (Nursing Act) dalam benak saya, masa amerika tidak punya!setelah saya cari ketemulah, Negara amerika adalah negara federal dimana  negara ini dibentuk dari negara –negara bagian dan Nursing act berada di negara bagian tersebut! Sungguh tidaklah bijak bila sang dewan sangat emosional dan resisten terhadap aspirasi rakyat, menurut saya apa ga lebih baik bila menyatakan ‘ oke kita terima dulu aspirasi anda dan kita akan menelaah serta mempelajari lebih jauh’  inilah fungsi-fungsi pendengaran kita harus kita kedepankan. Menurut saya penyelesaian-penyelesaian masalah diawali dengan mendengarkan.

Saya amat menyanyangkan pemerintah seakan membiarkan kriminalisasi terhadap “PERAWAT” terus berlanjut, lihat saja di daerah terpencil atau di puskesmas pembantu “PERAWAT”lah yang menjadi ujung  tombak dalam pengobatan atau asuhan keperawatan. Ketika sang kepala puskesmas ditanya, Lo dokternya kok tidak ada….jawab sang kepala kan ada perawat! Jadi inilah yang terkadang menjadi dilematis karena “PERAWAT” menjadi profesi yang abu-abu tanpa terlindungi Hukum meskipun kita tau keberadaan dan pentingnya profesi ini tetapi toh siapa yang peduli. Diberbagai Rumah sakit juga menjumpai seorang “PERAWAT’’ yang multi fungsi…asuhan keperawatan, tindakan medis, pengobatan, administrasi, management dll, anehnya  hal-hal tersebut dilakukan dalam bersamaan ditambah lagi yang terkadang adanya ketidak berimbangannya antara jumlah ‘’PERAWAT” dalam shiff dengan jumlah pasien sehingga menyebabkan beban yang melebihi kapasitasnya. Ada lagi yang membuat saya terkejut,”PERAWAT” Indonesia diragukan legalitasnya didunia internasional ini sungguh berbanding terbalik dengan kebutuhan “PERAWAT”Indonesia di kancah internasional semisal Negara Jepang yang membutuhkan ribuan “PERAWAT INDONESIA”, belum negara-negara timur tengah. Tetapi kenapa sampai saat ini Pemerintah sendiri terkesan diam bukan memberikan perlindungan untuk pengakuan di internasional. Apakah kita perlu mencari legalitas dan pengakuan ini di negara lain???trus jati diri bangsa ini???

Menurut saya UU Keperawatan ini sangatlah penting, karena ini menyangkut  wewenang, kompetensi, profesionalisme, pengakuan, proteksi dan tentunya standarisasi gaji karena ini menjadi satu kesatuan yang integral pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi rakyat. Kesehatan adalah menjadi  salah satu program strategis pemerintah selain pendidikan.

Kabar gembira buat saudara “PERAWAT INDONESIA”, pada bulan ini tepatnya pada tanggal 16 November telah dilakukan Rapat Dengar Pendapat antara pengurus PPNI dengan DPR. ini adalah langkah awal yang baik untuk menuju UU Keperawatan. Buat saudara “PERAWAT” kawallah ini dengan tetap menjaga integritas dan profesionalisme dan selalu bekerja dengan HATI. Tetap cemangat….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on ““PERAWAT RIWAYATMU KINI ”

  1. Saya sedang dekat dengan seorang calon perawat nih Pak. Iya memang terkadang saya miris juga kalau mendengar cerita-ceritanya. Dengan tanggungjawab yang begitu berat, hak-hak mereka sebagai perawat sering terabaikan. Gajinya pun tak seberapa. Ingin sekali rasanya meminta dia untuk memilih karir lain saja, tapi dia sudah terlanjur cinta pada profesinya. Saya jadi tidak tega😦

  2. saya sebagai calon perawat juga masih tetap miris dengan pemerintah yang kurang memfasilitasi sarana alat” kesehatan yang kurang canggih bila dibandingkan dengan tetangga, terlebih lagi dengan institusi kesehatan yang membedakan antara ini bayar atau tidak (untuk daerah pinggiran)
    dan lebih miris lagi. jika perawat sampai detik ini juga UU nya belum di sah kan😦
    perawat itu multifungsi, bisa merangkap jadi dokter, bidan, analys, ahli gizi, bahkan juga psikolog. kita semua mendapat ilmu tentang itu… jadi sangat diasayangkan jika pemerintah masih memandang dengan sebelah mata . ato bahkan mata tertutup :((

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s