Diabetes Melitus Dan Askep Diabet Militus (DM)

Pendahuluan

 

Penyakit diabetes terdapat pada sekitar 1 wanita usia reproduksi dan 1–2% diantaranya akan menderita diabetes gestasional.Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia (meningkatanya kadar gula darah) yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya.

 

Gejala Umum dari Diabetes Melitus (DM)

 

􀂙 Banyak kencing (poliuria).

􀂙 Haus dan banyak minum (polidipsia), lapar (polifagia).

􀂙 Letih, lesu.

􀂙 Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya

􀂙 Lemah badan, kesemutan, gatal, pandangankabur, disfungsi ereksi pada pria, dan    pruritusvulvae pada wanita

 

 

Pembagian DM

 

􀂙 DM tipe 1

– Kerusakan fungsi sel beta di pankreas

– Autoimun, idiopatik

 

􀂙 DM Tipe 2

 

Menurunnya produksi insulin atau berkurangnya

daya kerja insulin atau keduanya.

 

􀂙 DM tipe lain:

Karena kelainan genetik, penyakit pankreas, obat, infeksi, antibodi, sindroma penyakit lain.

􀂙 DM pada masa kehamilan = Gestasional Diabetes

Pada DM dengan kehamilan, ada 2 kemungkinanyang dialami oleh si Ibu:

1. Ibu tersebut memang telah menderita DMsejak sebelum hamil

2. Si ibu mengalami/menderita DM saat hamil

 

Klasifikasi DM dengan Kehamilan menurut Pyke:

 

Klas I : Gestasional diabetes, yaitu diabetes yang timbul pada waktu hamil dan menghilang setelah melahirkan.

Klas II : Pregestasional diabetes, yaitu diabetes mulai sejak sebelum hamil dan berlanjut setelah hamil.

Klas III : Pregestasional diabetes yang disertai dengan komplikasi penyakitpembuluh darah seperti retinopati, nefropati, penyakit pemburuh darah panggul dan pembuluh darah perifer.

90% dari wanita hamil yang menderita Diabetes termasuk ke dalam kategori DM Gestasional (TipeII) dan DM yang tergantung pada insulin (Insulin

Dependent Diabetes Mellitus = IDDM, tipe I).

 

Diagnosis

 

Kriteria Diagnosis:

1. Gejala klasik DM + gula darah sewaktu > 200 mg/dl. Gula darah sewaktumerupakan hasil pemeriksaan sesaat padasuatu hari tanpa memerhatikan waktumakan terakhir. Atau:

2. Kadar gula darah puasa > 126 mg/dl.Puasa diartikan pasien tidak mendapatkalori tambahan sedikitnya 8 jam. Atau:

3. Kadar gula darah 2 jam pada TTGO > 200mg/dl. TTGO dilakukan dengan Standard WHO, menggunakan beban glukosa yangsetara dengan 75 g glukosa anhidrus yangdilarutkan dalam air.

 

Cara pelaksanaan TTGO (WHO, 1994)

• Tiga hari sebelum pemeriksaan tetapmakan seperti kebiasaan sehari-hari (dengan karbohidrat yang cukup) dantetap melakukan kegiatan jasmani seperti biasa

• Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulaimalam hari) sebelum pemeriksaan, minumair putih tanpa gula tetap diperbolehkan

• Diperiksa kadar glukosa darah puasa

• Diberikan glukosa 75 g (orang dewasa),atau 1,75 g/Kg BB (anak-anak), dilarutkandalam 250 ml air dan diminum dalamwaktu 5 menit

• Berpuasa kembali sampai pengambilansampel darah untuk pemeriksaan 2 jamsetelah minumlarutan glukosa selesai

• Diperiksa kadar glukosa darah 2 jamsesudah beban glukosa

• Selama proses pemeriksaan, subyek yangdiperiksa tetap istirahat dan tidakmerokok.Apabilahasil pemeriksaan tidak memenuhi criteria normal atau DM, maka dapat digolongkan kedalam kelompok TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) atau GDPT (Glukosa Darah Puasa Terganggu) dari hasil yang diperoleh.

– TGT : glukosa darah plasma 2 jam setelahpembebanan antara 140 – 199 mg/dl

– GDPT : glukosa darah puasa antara 100 – 125mg/dl.

 

Reduksi Urine

 

Pemeriksaan reduksi urine merupakan bagian daripemeriksaan urine rutin yang selalu dilakukan diklinik. Hasil yang (+) menunjukkan adanya glukosuria. Beberapa hal yang perlu diingat darihasil pemeriksaan reduksi urine adalah:

 

􀂙 Digunakan pada pemeriksaan pertama sekaliuntuk tes skrining, bukan untuk menegakkan diagnosis

􀂙 Nilai (+) sampai (++++)

􀂙 Jika reduksi (+): masih mungkin oleh sebablain, seperti: renal glukosuria, obat-obatan, dan lainnya

􀂙 Reduksi (++)  à kemungkinan KGD: 200 –300 mg%

􀂙 Reduksi (+++) à kemungkinan KGD: 300 –400 mg%

􀂙 Reduksi (++++) àkemungkinan KGD: 􀂕 400 mg%

􀂙 Dapat digunakan untuk kontrol hasil pengobatan

􀂙 Bila ada gangguan fungsi ginjal, tidak bisa dijadikanpedoman.

 

Risiko Tinggi DM Gestasional:

1. Umur lebih dari 30 tahun

2. Obesitas dengan indeks massa tubuh 􀂕30 kg/m2

3. Riwayat DM pada keluarga (ibu atau ayah)

4. Pernah menderita DM gestasionalsebelumnya

5. Pernah melahirkan anak besar > 4.000gram

6. Adanya glukosuria

7. Riwayat bayi cacat bawaan

8. Riwayat bayi lahir mati

9. Riwayat keguguran

10. Riwayat infertilitas

11. Hipertensi

 

Komplikasi pada Ibu

 

1. Hipoglikemia, terjadi pada enam bulanpertama kehamilan

2. Hiperglikemia, terjadi pada kehamilan 20-30 minggu akibat resistensi insulin

3. Infeksi saluran kemih

4. Preeklampsi

5. Hidramnion

6. Retinopati

7. Trauma persalinan akibat bayi besar

 

Masalah pada anak

1. Abortus

2. Kelainan kongenital spt sacral agenesis,neural tube defek

3. Respiratory distress

4. Neonatal hiperglikemia

5. Makrosomia

6. hipocalcemia

7. kematian perinatal akibat diabetikketoasidosis

8. Hiperbilirubinemia

 

Penderita DM Gestasional memunyai resiko yangtinggi terhadap kambuhnya penyakit diabetes yang pernah dideritannya pada saat hamilsebelumnya.

Saran: 6-8 minggu setelah melahirkan, ibu tersebut melakukan test plasma glukosa puasadan OGTT 75 gram glukosa. Pasien gemukpenderita GDM, sebaiknya mengontrol BB, karenadiperkirakan akan menjadi DM dalam 20 tahun kemudian

 

Prinsip Pengobatan DM:

1. Diet

2. Penyuluhan

3. Exercise (latihan fisik/olah raga)

4. Obat: Oral hipoglikemik, insulin

5. Cangkok pankreas

Tujuan Pengobatan:

􀂃 Mencegah komplikasi akut dan kronik.

􀂃 Meningkatkan kualitas hidup, dengan menormalkan KGD, dan dikatakan penderitaDM terkontrol, sehingga sama dengan orang normal.

􀂃 Pada ibu hamil dengan DM, mencegahkomplikasi selama hamil, persalinan, dan komplikasi pada bayi.

 

Prinsip Diet

 

􀂙 Tentukan kalori basal dengan menimbangberat badan.

􀂙 Tentukan penggolongan pasien: underweight (berat badan kurang), normal, overweight (berat badan berlebih), atau obesitas(kegemukan)Persentase = BB (kg)/(Tinggi Badan (cm) –100) X 100%

Underweight: < 90%

Normal: 90–110%

Overweight: 110–130%

Obesitas: > 130%

􀂙 Jenis kegiatan sehari hari; ringan, sedang,berat, akan menentukan jumlah kalori yang ditambahkan. Juga umur dan jenis kelamin.

􀂙 Status gizi

􀂙 Penyakit penyerta

􀂙 Serat larut dan kurangi garam

􀂙 Kenali jenis makananPenyuluhan terpadu untuk penderita DM danlingkungannya

􀂙 Penyuluhan dari Dokter, Perawat dan ahli gizi -di beberapa RS sudah ada Klinik Diabetes Terpadu.

􀂙 Sasaran: Penderita, keluarga penderita, lingkungansosial penderita.

 

Obat DM

 

􀂙 Meningkatkan jumlah insulin

􀂃 Sulfonilurea (glipizide GITS, glibenclamide,dsb.)

􀂃 Meglitinide (repaglinide, nateglinide)

􀂃 Insulin injeksi

􀂙 Meningkatkan sensitivitas insulin

􀂃 Biguanid/metformin

􀂃 Thiazolidinedione (pioglitazone, rosiglitazone)

􀂙 Memengaruhi penyerapan makanan

􀂃 Acarbose

􀂙 Hati-hati risiko hipoglikemia berikan glukosa oral (minuman manis atau permen)

 

Sasaran pengontrolan gula darah

􀂙 Kadar gula darah sebelum makan 80-120mg/dl

􀂙 Kadar gula darah 2 jam sesudah makan < 140mg/dl

􀂙 Kadar HbA1c < 7%

Penanganan Diabetes pada Kehamilan

Kehamilan harus diawasi secara teliti sejak dini untuk mencegah komplikasi pada ibu dan janin.

Tujuan utama pengobatan DM dengan hamil:

1. Mencegah timbulnya ketosis danhipoglikemia.

2. Mencegah hiperglikemia dan glukosuriaseminimal mungkin.

3. Mencapai usia kehamilan seoptimalmungkin.

 

Biasanya kebanyakan penderita diabetes atau DM gestasional yang ringan dapat di atasi dengan

pengaturan jumlah dan jenis makanan, pemberian anti diabetik secara oral, dan mengawasikehamilan secara teratur. Karena 15-20% dari pasien akan menderita kekurangan daya pengaturan glukosa dalam masakehamilan, maka kelompok ini harus cepat-cepat

diidentifikasi dan diberikan terapi insulin. Bilakadar plasma glukosa sewaktu puasa 105 mg/ml

atau kadar glukosa setelah dua jam postprandial120 mg/ml pada dua pemeriksaan atau lebih, dalam tempo 2 (dua) minggu, maka dianjurkanagar penderita diberikan terapi insulin. Obat DM oral kontraindikasi. Penentuan dosis insulinbergantung pada: BB ibu, aktivitas, KGD,

komplikasi yang ada.Prinsip: dimulai dengan dosis kecil reguler insulin3 kali sehari, dosis dinaikkan bertahap sesuairespons penderita.

 

Penyuntikan Insulin

1. Kenali jenis insulin yang ada, kandungan/ml(unit/ml).

2. Kenali jenis spuit insulin yang tersedia: 40u/ml, 100 u/ml, 50u/0,5 ml.

3. Suntikan diberikan subkutan di deltoid, pahabagian luar, perut, sekitar pusat.

4. Tempat suntikan sebaiknya diganti-ganti.

5. Suntikan diberikan secara tegak lurus.

6. Pasien segera diberi makan setelah suntikandiberikan. Paling lama setengah jam setelah suntikan diberikan.

7. Kalau pasien suntik sendiri, harus dapatmelihat dengan jelas angka pada alat suntik.

8. Saat ini ada alat suntik bentuk pena dengankontrol dosis yang lebih mudah dan lebih tepat, dan mudah dibawa-bawa.

 

Bagaimana wanita dengan diabetes?

􀂃 Dapat hamil dan punya anak sepanjanggula darah terkontrol.

􀂃 Disarankan memilih kontrasepsi dengankadar estrogen rendah.

􀂃 Dapat memakai pil tambahan hormonprogesteron.

􀂃 IUD dapat menimbulkan risiko infeksi.

 

Tanda Komplikasi DM

􀂙 Makrovaskular: stroke, penyakit jantung koroner, ulkus/ gangren.

􀂙 Mikrovaskular: retina (retinopati) dan ginjal(gagal ginjal kronik), syaraf (stroke,neuropati).

􀂙 Koma: hiperglikemi, hipoglikemi, stroke.

ASKEP DIABETES MELLITUS

1.Pengertian diabetes mellitus
– Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang kompleks yang mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis. (Barbara C. Long)
– Diabetes mellitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat. (Brunner dan Sudart)
– Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (WHO).
– Diabetes mellitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat peningkatan kadar glukosa darah yang disebabkan oleh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Suyono, 2002).

2.Etiologi
Etiologi dari diabetes mellitus tipe II sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti dari studi-studi eksperimental dan klinis kita mengetahui bahwa diabetes mellitus adalah merupakan suatu sindrom yang menyebabkan kelainan yang berbeda-beda dengan lebih satu penyebab yang mendasarinya.
Menurut banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu :
a.Faktor genetik
Riwayat keluarga dengan diabetes :
Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang menderita diabetes mellitus dengan kesehatan keluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita diabetes mellitus mencapai 8, 33 % dan 5, 33 % bila dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1, 96 %.
b.Faktor non genetik
1.)Infeksi
Virus dianggap sebagai “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai predisposisi genetic terhadap diabetes mellitus.
2.)Nutrisi
a.)Obesitas dianggap menyebabkan resistensi terhadap insulin.
b.)Malnutrisi protein
c.)Alkohol, dianggap menambah resiko terjadinya pankreatitis.

3.)Stres
Stres berupa pembedahan, infark miokard, luka bakar dan emosi biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara.
4.)Hormonal Sindrom cushing karena konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi, akromegali karena jumlah somatotropin meninggi, feokromositoma karena konsentrasi glukagon dalam darah tinggi, feokromositoma karena kadar katekolamin meningkat
3.Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasi dari WHO (1985) dibagi beberapa type yaitu :
a.Diabetes mellitus type insulin, Insulin Dependen diabetes mellitus (IDDM) yang dahulu dikenal dengan nama Juvenil Onset diabetes (JOD), klien tergantung pada pemberian insulin untuk mencegah terjadinya ketoasidosis dan mempertahankan hidup. Biasanya pada anak-anak atau usia muda dapat disebabkan karena keturunan.
b.Diabetes mellitus type II, Non Insulin Dependen diabetes mellitus (NIDDM), yang dahulu dikenal dengan nama Maturity Onset diabetes (MOD) terbagi dua yaitu :
1.)Non obesitas
2.)Obesitas
Disebabkan karena kurangnya produksi insulin dari sel beta pankreas, tetapi biasanya resistensi aksi insulin pada jaringan perifer.
Biasanya terjadi pada orang tua (umur lebih 40 tahun) atau anak dengan obesitas.
c.Diabetes mellitus type lain
1.)diabetes oleh beberapa sebab seperti kelainan pankreas, kelainan hormonal, diabetes karena obat/zat kimia, kelainan reseptor insulin, kelainan genetik dan lain-lain.
2.)Obat-obat yang dapat menyebabkan huperglikemia antara lain :
Furasemid, thyasida diuretic glukortikoid, dilanting dan asam hidotinik
3.)diabetes Gestasional (diabetes kehamilan) intoleransi glukosa selama kehamilan, tidak dikelompokkan kedalam NIDDM pada pertengahan kehamilan meningkat sekresi hormon pertumbuhan dan hormon chorionik somatomamotropin (HCS). Hormon ini meningkat untuk mensuplai asam amino dan glukosa ke fetus.
4.Patofisiologi
Sebagian besar patologi diabetes mellitus dapat dikaitkan dengan satu dari tiga efek utama kekurangan insulin sebagai berikut : (1) Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel-sel tubuh, dengan akibat peningkatan konsentrasi glukosa darah setinggi 300 sampai 1200 mg/hari/100 ml. (2) Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah-daerah penyimpanan lemak, menyebabkan kelainan metabolisme lemak maupun pengendapan lipid pada dinding vaskuler yang mengakibatkan aterosklerosis. (3) Pengurangan protein dalam jaringan tubuh.
Akan tetapi selain itu terjadi beberapa masalah patofisiologi pada diabetes mellitus yang tidak mudah tampak yaitu kehilangan ke dalam urine klien diabetes mellitus. Bila jumlah glukosa yang masuk tubulus ginjal dan filtrasi glomerulus meningkat kira-kira diatas 225 mg.menit glukosa dalam jumlah bermakna mulai dibuang ke dalam urine. Jika jumlah filtrasi glomerulus yang terbentuk tiap menit tetap, maka luapan glukosa terjadi bila kadar glukosa meningkat melebihi 180 mg%.
Asidosis pada diabetes, pergeseran dari metabolisme karbohidrat ke metabolisme telah dibicarakan. Bila tubuh menggantungkan hampir semua energinya pada lemak, kadar asam aseto – asetat dan asam Bihidroksibutirat dalam cairan tubuh dapat meningkat dari 1 Meq/Liter sampai setinggi 10 Meq/Liter.
5.Gambaran Klinik
Gejala yang lazim terjadi, pada diabetes mellitus sebagai berikut :
Pada tahap awal sering ditemukan :
a.Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.
b.Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.
c.Polipagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.
d.Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang. Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus
e.Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.

6.Diagnosis
Diagnosis diabetes mellitus umumnya dipikirkan dengan adanya gejala khas diabetes mellitus berupa poliuria, polidipsi, poliphagia, lemas dan berat badan menurun. Jika keluhan dan gejala khas ditemukan dan pemeriksaan glukosa darah sewaktu yang lebih 216 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosa
7.Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan klien dengan diabetes mellitus adalah untuk mengatur glukosa darah dan mencegah timbulnya komplikasi acut dan kronik. Jika klien berhasil mengatasi diabetes yang dideritanya, ia akan terhindar dari hyperglikemia atau hypoglikemia. Penatalaksanaan diabetes tergantung pada ketepatan interaksi dari tiga faktor aktifitas fisik, diet dan intervensi farmakologi dengan preparat hyperglikemik oral dan insulin.
Pada penderita dengan diabetes mellitus harus rantang gula dan makanan yang manis untuk selamanya. Tiga hal penting yang harus diperhatikan pada penderita diabetes mellitus adalah tiga J (jumlah, jadwal dan jenis makanan) yaitu :
J I : jumlah kalori sesuai dengan resep dokter harus dihabiskan.
J 2 : jadwal makanan harus diikuti sesuai dengan jam makan terdaftar.
J 3 : jenis makanan harus diperhatikan (pantangan gula dan makanan manis).

Diet pada penderitae diabetes mellitus dapat dibagi atas beberapa bagian antara lain :
a.Diet A : terdiri dari makanan yang mengandung karbohidrat 50 %, lemak 30 %, protein 20 %.
b.Diet B : terdiri dari karbohidrat 68 %, lemak 20 %, protein 12 %.
c.Diet B1 : terdiri dari karbohidrat 60 %, lemak 20 %, protein 20 %.
d.Diet B1 dan B­2 diberikan untuk nefropati diabetik dengan gangguan faal ginjal.
Indikasi diet A :
Diberikan pada semua penderita diabetes mellitus pada umumnya.
Indikasi diet B :
Diberikan pada penderita diabetes terutama yang :
a.Kurang tahan lapan dengan dietnya.
b.Mempunyai hyperkolestonemia.
c.Mempunyai penyulit mikroangiopati misalnya pernah mengalami cerobrovaskuler acident (cva) penyakit jantung koroner.
d.Mempunyai penyulit mikroangiopati misalnya terdapat retinopati diabetik tetapi belum ada nefropati yang nyata.
e.Telah menderita diabetes dari 15 tahun
Indikasi diet B1
Diberikan pada penderita diabetes yang memerlukan diet protein tinggi, yaitu penderita diabetes terutama yang :
a.Mampu atau kebiasaan makan tinggi protein tetapi normalip idemia.
b.Kurus (underweight) dengan relatif body weight kurang dari 90 %.
c.Masih muda perlu pertumbuhan.
d.Mengalami patah tulang.
e.Hamil dan menyusui.
f.Menderita hepatitis kronis atau sirosis hepatitis.
g.Menderita tuberkulosis paru.
h.Menderita penyakit graves (morbus basedou).
i.Menderita selulitis.
j.Dalam keadaan pasca bedah.
Indikasi tersebut di atas selama tidak ada kontra indikasi penggunaan protein kadar tinggi.
Indikasi B2 dan B3
Diet B2
Diberikan pada penderita nefropati dengan gagal ginjal kronik yang klirens kreatininnya masih lebar dari 25 ml/mt.
Sifat-sifat diet B2
a.Tinggi kalori (lebih dari 2000 kalori/hari tetapi mengandung protein kurang.
b.Komposisi sama dengan diet B, (68 % hidrat arang, 12 % protein dan 20 % lemak) hanya saja diet B2 kaya asam amino esensial.
c.Dalam praktek hanya terdapat diet B2 dengan diet 2100 – 2300 kalori / hari.
Karena bila tidak maka jumlah perhari akan berubah.
Diet B3
Diberikan pada penderita nefropati diabetik dengan gagal ginjal kronik yang klibers kreatininnya kurang dari 25 MI/mt
Sifat diet B3
a.Tinggi kalori (lebih dari 2000 kalori/hari).
b.Rendah protein tinggi asam amino esensial, jumlah protein 40 gram/hari.
c.Karena alasan No 2 maka hanya dapat disusun diet B3 2100 kalori dan 2300 / hari. (bila tidak akan merubah jumlah protein).
d.Tinggi karbohidrat dan rendah lemak.
e.Dipilih lemak yang tidak jenuh.
Semua penderita diabetes mellitus dianjurkan untuk latihan ringan yang dilaksanakan secara teratur tiap hari pada saat setengah jam sesudah makan. Juga dianjurkan untuk melakukan latihan ringan setiap hari, pagi dan sore hari dengan maksud untuk menurunkan BB.
Penyuluhan kesehatan.
Untuk meningkatkan pemahaman maka dilakukan penyuluhan melalui perorangan antara dokter dengan penderita yang datang. Selain itu juga dilakukan melalui media-media cetak dan elektronik.

8.Komplikasi
a.Akut
1.)Hypoglikemia
2.)Ketoasidosis
3.)Diabetik
b.Kronik
1.)Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak.
2.)Mikroangiopati mengenai pembuluh darah kecil retinopati diabetik, nefropati diabetic.
3.)Neuropati diabetic.

B.Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama antara perawat dengan klien dan keluarga, untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal dalam melakukan proses terapeutik maka perawat melakukan metode ilmiah yaitu proses keperawatan.
Proses keperawatan merupakan tindakan yang berurutan yang dilakukan secara sistematis dengan latar belakang pengetahuan komprehensif untuk mengkaji status kesehatan klien, mengidentifikasi masalah dan diagnosa, merencanakan intervensi mengimplementasikan rencana dan mengevaluasi rencana sehubungan dengan proses keperawatan pada klien dengan gangguan sistem endokrin.
1.Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan gangguan sistem endokrin diabetes mellitus dilakukan mulai dari pengumpulan data yang meliputi : biodata, riwayat kesehatan, keluhan utama, sifat keluhan, riwayat kesehatan masa lalu, pemeriksaan fisik, pola kegiatan sehari-hari.
Hal yang perlu dikaji pada klien degan diabetes mellitus :
a.Aktivitas dan istirahat :
Kelemahan, susah berjalan/bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan tidur, tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan koma.
b.Sirkulasi
Riwayat hipertensi, penyakit jantung seperti IMA, nyeri, kesemutan pada ekstremitas bawah, luka yang sukar sembuh, kulit kering, merah, dan bola mata cekung.
c.Eliminasi
Poliuri,nocturi, nyeri, rasa terbakar, diare, perut kembung dan pucat.
d.Nutrisi
Nausea, vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek, mual/muntah.
e.Neurosensori
Sakit kepala, menyatakan seperti mau muntah, kesemutan, lemah otot, disorientasi, letargi, koma dan bingung.
f.Nyeri
Pembengkakan perut, meringis.
g.Respirasi
Tachipnea, kussmaul, ronchi, wheezing dan sesak nafas.
h.Keamanan
Kulit rusak, lesi/ulkus, menurunnya kekuatan umum.
i.Seksualitas
Adanya peradangan pada daerah vagina, serta orgasme menurun dan terjadi impoten pada pria.

2.Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pengkajian data keperawatan yang sering terjadi berdasarkan teori, maka diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien diabetes mellitus yaitu :
a.Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotik.
b.Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral.
c.Resiko infeksi berhubungan dengan hyperglikemia.
d.Resiko tinggi terhadap perubahan persepsi sensori berhubungan dengan ketidakseimbangan glukosa/insulin dan atau elektrolit.
e.Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.
f.Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka panjang/progresif yang tidak dapat diobati, ketergantungan pada orang lain.
g.Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/mengingat, kesalahan interpretasi informasi.

3.Rencana Keperawatan
a.Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotik.
Tujuan :
Mendemonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urine tepat secara individu, dan kadar elektrolit dalam batas normal.
Intervensi :
1.)Pantau tanda-tanda vital.
Rasional : Hypovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia.
2.)Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit, dan membran mukosa.
Rasional : Merupakan indikator dari tingkat dehidrasi, atau volume sirkulasi yang adekuat.
3.)Pantau masukan dan keluaran, catat berat jenis urine.
Rasional : Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal, dan keefektifan dari terapi yang diberikan.
4.)Timbang berat badan setiap hari.
Rasional : Memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti.
5.)Berikan terapi cairan sesuai indikasi.
Rasional : Tipe dan jumlah dari cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respons pasien secara individual.
b.Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral.
Tujuan :
Mencerna jumlah kalori/nutrien yang tepat
Menunjukkan tingkat energi biasanya
Berat badan stabil atau bertambah.
Intervensi :
1.)Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan oleh pasien.
Rasional : Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik.
2.)Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi.
Rasional : Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat (termasuk absorbsi dan utilisasinya).
3.)Identifikasi makanan yang disukai/dikehendaki termasuk kebutuhan etnik/kultural.
Rasional : Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam perencanaan makan, kerjasama ini dapat diupayakan setelah pulang.
4.)Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan sesuai indikasi.
Rasional : Meningkatkan rasa keterlibatannya; memberikan informasi pada keluarga untuk memahami nutrisi pasien.
5.)Berikan pengobatan insulin secara teratur sesuai indikasi.
Rasional : Insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel.
c.Resiko infeksi berhubungan dengan hyperglikemia.
Tujuan :
Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi.
Mendemonstrasikan teknik, perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi.
Intervensi :
1).Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan.
Rasional : Pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial.
2).Tingkatkan upaya untuk pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasiennya sendiri.
Rasional : Mencegah timbulnya infeksi silang.
3).Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif.
Rasional : Kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi media terbaik bagi pertumbuhan kuman.
4).Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh.
Rasional : Sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada peningkatan resiko terjadinya kerusakan pada kulit/iritasi kulit dan infeksi.
5).Lakukan perubahan posisi, anjurkan batuk efektif dan nafas dalam.
Rasional : Membantu dalam memventilasi semua daerah paru dan memobilisasi sekret.
d.Resiko tinggi terhadap perubahan persepsi sensori berhubungan dengan ketidakseimbangan glukosa/insulin dan atau elektrolit.
Tujuan :
Mempertahankan tingkat kesadaran/orientasi.
Mengenali dan mengkompensasi adanya kerusakan sensori.
Intervensi :
1.)Pantau tanda-tanda vital dan status mental.
Rasional : Sebagai dasar untuk membandingkan temuan abnormal
2.)Panggil pasien dengan nama, orientasikan kembali sesuai dengan kebutuhannya.
Rasional : Menurunkan kebingungan dan membantu untuk mempertahankan kontak dengan realitas.
3.)Pelihara aktivitas rutin pasien sekonsisten mungkin, dorong untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai kemampuannya.
Rasional : Membantu memelihara pasien tetap berhubungan dengan realitas dan mempertahankan orientasi pada lingkungannya.
4.)Selidiki adanya keluhan parestesia, nyeri atau kehilangan sensori pada paha/kaki.
Rasional : Neuropati perifer dapat mengakibatkan rasa tidak nyaman yang berat, kehilangan sensasi sentuhan/distorsi yang mempunyai resiko tinggi terhadap kerusakan kulit dan gangguan keseimbangan.
e.Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.
Tujuan :
Mengungkapkan peningkatan tingkat energi.
Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.
Intervensi :
1.)Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas.
Rasional : Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan tingkat aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah.
2.)Berikan aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup.
Rasional : Mencegah kelelahan yang berlebihan.
3.)Pantau nadi, frekuensi pernafasan dan tekanan darah sebelum/sesudah melakukan aktivitas.
Rasional : Mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis.
4.)Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai toleransi.
Rasional : Meningkatkan kepercayaan diri/harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi.
f.Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka panjang/progresif yang tidak dapat diobati, ketergantungan pada orang lain.
Tujuan :
Mengakui perasaan putus asa
Mengidentifikasi cara-cara sehat untuk menghadapi perasaan.
Membantu dalam merencanakan perawatannya sendiri dan secara mandiri mengambil tanggung jawab untuk aktivitas perawatan diri.
Intervensi :
1.)Anjurkan pasien/keluarga untuk mengekspresikan perasaannya tentang perawatan di rumah sakit dan penyakitnya secara keseluruhan.
Rasional : Mengidentifikasi area perhatiannya dan memudahkan cara pemecahan masalah.
2.)Tentukan tujuan/harapan dari pasien atau keluarga.
Rasional : Harapan yang tidak realistis atau adanya tekanan dari orang lain atau diri sendiri dapat mengakibatkan perasaan frustasi.kehilangan kontrol diri dan mungkin mengganggu kemampuan koping.
3.)Berikan dukungan pada pasien untuk ikut berperan serta dalam perawatan diri sendiri dan berikan umpan balik positif sesuai dengan usaha yang dilakukannya.
Rasional : Meningkatkan perasaan kontrol terhadap situasi.
4.)Berikan dukungan pada pasien untuk ikut berperan serta dalam perawatan diri sendiri.
Rasional : Meningkatkan perasaan kontrol terhadap situasi.
g.Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/mengingat, keselahan interpretasi informasi.
Tujuan :
Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit.
Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala dengan proses penyakit dan menghubungkan gejala dengan faktor penyebab.
Dengan benar melakukan prosedur yang perlu dan menjelaskan rasional tindakan.
Intervensi :
1.)Ciptakan lingkungan saling percaya
Rasional : Menanggapai dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil bagian dalam proses belajar.
2.)Diskusikan dengan klien tentang penyakitnya.
Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pertimbangan dalam memilih gaya hidup.
3.)Diskusikan tentang rencana diet, penggunaan makanan tinggi serat.
Rasional : Kesadaran tentang pentingnya kontrol diet akan membantu pasien dalam merencanakan makan/mentaati program.
4.)Diskusikan pentingnya untuk melakukan evaluasi secara teratur dan jawab pertanyaan pasien/orang terdekat.
Rasional : Membantu untuk mengontrol proses penyakit dengan lebih ketat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DIABETES MELLITUS

 

A. Pengertian
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).

B. Klasifikasi
Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :
1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)

C. Etiologi
1. Diabetes tipe I:
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.
2. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga

D. Patofisiologi/Pathways

 

E. Tanda dan Gejala
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
1. Katarak
2. Glaukoma
3. Retinopati
4. Gatal seluruh badan
5. Pruritus Vulvae
6. Infeksi bakteri kulit
7. Infeksi jamur di kulit
8. Dermatopati
9. Neuropati perifer
10. Neuropati viseral
11. Amiotropi
12. Ulkus Neurotropik
13. Penyakit ginjal
14. Penyakit pembuluh darah perifer
15. Penyakit koroner
16. Penyakit pembuluh darah otak
17. Hipertensi
Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.
Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.
Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Glukosa darah sewaktu
2. Kadar glukosa darah puasa
3. Tes toleransi glukosa
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)
Bukan DM Belum pasti DM DM
Kadar glukosa darah sewaktu
– Plasma vena
– Darah kapiler
Kadar glukosa darah puasa
– Plasma vena
– Darah kapiler

< 100
<80
<110
<90

100-200
80-200
110-120
90-110

>200
>200
>126
>110
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl

G. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
1. Diet
2. Latihan
3. Pemantauan
4. Terapi (jika diperlukan)
5. Pendidikan

H. Pengkajian
? Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?
? Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya
Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
? Aktivitas/ Istirahat :
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.

? Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah
? Integritas Ego
Stress, ansietas
? Eliminasi
Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
? Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
? Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.
? Nyeri / Kenyamanan
Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)
? Pernapasan
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)
? Keamanan
Kulit kering, gatal, ulkus kulit.

I. Masalah Keperawatan
1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan
2. Kekurangan volume cairan
3. Gangguan integritas kulit
4. Resiko terjadi injury

J. Intervensi
1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak.
Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil :
? Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat
? Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya
Intervensi :
? Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.
? Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.
? Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.
? Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral.
? Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi.
? Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala.
? Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.
? Kolaborasi pemberian pengobatan insulin.
? Kolaborasi dengan ahli diet.

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.
Tujuan : kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil :
Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.

Intervensi :
? Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik
? Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul
? Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas
? Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
? Pantau masukan dan pengeluaran
? Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung
? Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung.
? Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur
? Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K)

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer).
Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan.
Kriteria Hasil :
Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi
Intervensi :
? Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti balut.
? Kaji tanda vital
? Kaji adanya nyeri
? Lakukan perawatan luka
? Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.
? Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.

4. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan
Tujuan : pasien tidak mengalami injury
Kriteria Hasil : pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injury
Intervensi :
? Hindarkan lantai yang licin.
? Gunakan bed yang rendah.
? Orientasikan klien dengan ruangan.
? Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
? Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi
DAFTAR PUSTAKA

Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC, 1997.

Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.

Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.

Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.

Arjatmo Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASKEP DIABETES MELLITUS

I. KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN.
Adalah suatu penyakit kronik yang komplek disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan membran elektron.

B. ETIOLOGI.
Insulin Dependent Diabetes Melitus ( IDDM ) atau Diabetes Melitus Tergantung Insulin ( DMTI ) disebabkan oleh destruksi sel B pulau langerhans akibat proses autoimun.
Sedangkan Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus ( NIDDM ) atau Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin ( DMTTI ) disebabkan kegagalan relatif sel B dan resistensi insulin.
Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati.
Sel B tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defesiensi relatif insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel B pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa.

C. PATOFISIOLOGI.
Dalam proses pencernaan yang normal, karbohidrat dari makanan diubah menjadi glukosa, yang berguna sebagai bahan bakar atau energi bagi tubuh manusia. Hormon insulin mengubah glukosa dalam darah menjadi energi yang digunakan sel. Jika kebutuhan energi telah mencukupi, kebutuhan glukosa disimpan dalam bentuk glukogen dalam hati dan otot yang nantinya bisa digunakan lagi sebagai energi setelah direkonvensi menjadi glukosa lagi. Proses penyimpanan dan rekonvensi ini membutuhkan insulin. Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas yang mengurangi dan mengontrol kadar gula darah sampai pada batas tertentu.
DM terjadi akibat produksi insulin tubuh kurang jumlahnya atau kurang daya kerjanya, walaupun jumlah insulin sendiri normal bahkan mungkin berlebihan akibat kurangnya jumlah atau daya kerja insulin. Glukosa yang tidak dapat dimanfaatkan oleh sel hanya terakumulasi di dalam darah dan beredar ke seluruh tubuh. Gula yang tidak dikonvensi berhamburan di dalam darah, kadar glukosa yang tinggi di dalam darah akan dikeluarkan lewat urin, tingginya glukosa dalam urin membuat penderita banyak kencing ( polyuria ), akibatnya muncul gejala kehausan dan keinginan minum yang terus – menerus ( polydipsi ) dan gejala banyak makan (polypasia), walaupun kadar glukosa dalam darah cukup tinggi. Glukosa dalam darah jadi mubazir karena tidak bisa dimasukkan ke dalam sel – sel tubuh.

D. TANDA DAN GEJALA.
Gejala sering baru timbul beberapa bulan atau beberapa tahun sesudah mengindap penyakit ini.
Gejala yang sering muncul adalah :
1. Sering buang air kecil terutama pada malam hari.
2. Gatal – gatal terutama pada alat kelamin bagian luar.
3. Kesemutan dan kram.
4. Cepat merasa lapar dan kehausan.
5. Gairah sex menurun.
6. Cepat merasa lelah dan mengantuk.
7. BB menurun, nafsu makan bertambah.
8. Penglihatan kabur.
9. Mudah timbul abses dan kesembuhan yang lama.
10. Ibu melahirkan bayi lebih dari 4 kg.
11. Ibu sering mengalami keguguran atau melahirkan bayi mati.

E. KOMPLIKASI.
1. Kardiovaskuler : hipertensi, infak miokard.
2. Mata : retinopati, katarak.
3. Syaraf : neuropati.
4. Paru – paru : TBC.
5. Kulit : gangren, ulkus.
6. Hati : sirosis hepatis.

F. PENATALAKSANAAN.
Dalam jangka pendek penatalaksanaan DM bertujuan untuk menghilangkan keluhan atau gejala DM. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi.
Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa, lipid dan insulin. Untuk mempermudah tercapainya tujuan tersebut kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan kegiatan mandiri.
Kerangka utama penatalaksanaan DM yaitu perencanaan :
• makanan ( diet ).
• Latihan jasmani.
• Obat – obatan.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELLITUS

1. Pengkajian.
Mengumpulkan data pasien DM baik dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, wawancara, observasi dan dokumentasi secara biopsikososial dan spiritual.
a. Identitas klien.
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, suku bangsa, status perkawinan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, no.register RS, Diagnosa medis, penanggung jawab.
Keluhan utama.
Biasanya pasien datang dengan keluhan : pusing, lemah, letih, luka yang tidak sembuh.
b. Riwayat penyakit sekarang.
• perubahan pola berkemih.
• Pusing.
• Mual, muntah.
• Apa ada diberi obat sebelum masuk RS.
c. Riwayat penyakit dahulu.
Apakah pasien punya penyakit DM sebelumnya.
d. Riwayat penyakit keluarga.
Tanyakan pada pasien apa ada keluarga yang menderita penyakit keturunan seperti yang di derita pasien.
e. Pemeriksaan fisik.
• Keadaan umum : penampilan, tanda vital, kesadaran, TB, BB.
• Kulit : keadaan kulit, warnanya, turgor,edema, lesi, memar.
• Kepala : keadaan rambut, warna rambut, apa ada massa.
• Mata : bagaimana pupilnya, warna sklera, kunjungtiva, bagaimana reaksi pupil terhadap cahaya, apakah menggunakan alat bantal.
• Hidung : strukturnya, apa ada polip, peradangan, fungsi penciuman.
• Telinga : strukturnya, apa ada cairan keluar dari telinga, peradangan, nyeri.
• Mulut : keadaan mulut, gigi, mukosa mulut dan bibir, apa ada gangguan menelan.
• Leher : keadaan leher, kelenjar tiroid.
• Dada/pernapasan/sirkulasi : bentuk dada, frekuensi napas, apa ada bunyi tambahan, gerakan dinding dada.
• Abdomen : struktur, kebersihan, apa ada asites, kembung, bising usus, apa ada nyeri tekan.
f. Kebutuhan biologis.
• Nutrisi : pola kebiasaan makanan,
jenis makanan / minuman.
• Eliminasi : pola, frekuensi, jumlah, warna, bau, konsistensi (BAK/BAB ).
• Istirahat / tidur : kebiasaan tidur selama di rumah dan RS.
• Aktivitas : Apakah terganggu atau terbatas, faktor yang memperingan atau memperberat, riwayat pekerjaan.
g. Riwayat psikologis.
Bagaimana pola pemecahan masalah pasien terhadap masalahnya demikian juga keluarga.
h. Riwayat sosial.
Kebiasaan hidup, konsep diri terhadap masalah kesehatan, hubungan dengan keluarga, tetangga, dokter, perawat.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL PADA DIABETES MELLITUS.
1. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan kelemahan anggota tubuh ditandai, pasien mengelih badan terasa lemah, berjalan dengan di bantu.
Tujuan : mobilisasi fisik terpenuhi.
Intervensi :
1. Kaji tingkat kelemahan
2. Diskusikan dengan pasien pentingnya aktivitas
3. Berikan partisipasi pasien dalam ADL
4. Dekatkan peralatan yang dibutukan pasien
5. Monitor tanda vital setelah dan sebelum melakukan aktiovitas ringan
6. Bantu pasien melakukan aktipitas ringan.

2. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan kadar gula darah ditandai Pasien mengatakan ia sering ingin buang air kecil, kadar gula sewaktu dan kadar gula darah puasa.
Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit:
Intervensi :
1. Kaji perubahan warna kulit
2. Anjurkan pasien berhati-hati dalam melakukan aktifitas (kekamar kecil)
3. Beritahu pasien untuk tidak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung pemanis.
4. Beritahu atau beri penjelasan tentang hal yang berhubungan dengan penyakitnya.
3. Risiko hipoglikemia berhubungan dengan terlalu banyak insulin, makan sedikit, gula darah terlalu drastis turun ditandai kulit pucat, lembab, takikardi, diaforesis, gugup.
Tujuan : Mengatasi dan meminimalkan episode abnormal gula darah dan komplikasi vaskuler.
Intervensi :
1. Pantau tanda dan gejala hipoglikemi :
a. Glukosa darah < 70 mg/dl
b. Kulit dingin, pucat, lembab
c. Takikardia, diaforesis
d. Gugup, gelisah
e. Inkoordinasi
f. Cenderung tidur
g. Ketidaksadaran tentang Hipoglikemia.

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIABETES MELLITUS DI RUANG PENYAKIT DALAM PRIA RSUD H DAMANHURI BARABAI

I. DATA DEMOGRAPI
Tanggal wawancara : 4 Maret 2003
Tanggal MRS : 3 Maret 2003
No. RMK : 46 04 87
Nama : Tn. R
Umur : 52 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Suku/Bangsa : Banjar/Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Swasta
Status Perkawinan : Kawin
Alamat : Jl Pasar I Barabai
Penanggung Jawab : Tn. R

II. POLA FUNGSIONAL
1. persepsi Kesehatan dan Penanganan kesehatan
• Keluhan Utama / Kesehatan Umum :
Luka Pada ibu jari kaki kanan, nafsu makan kurang dan badan terasa lemah.
• Riwayat Penyakit sekarang (Pola PQRST) :
Pasien mengatakan sejak 2 bulan yang lalu pada ibu jari klien luka lecet (sering terkena air) dan sebulan terkhir ini jadilah borok pada sela ibu kaki kanan, keluhan lain yang menyertai nafsu makan kurang, dan BB menurun, badan terasa lemah.
• Penggunaan Obat sekarang :
– Aspilet 1×1 tab, Tramal 3×1 tab
– Captropil 2×1 amp
– HCT 1-0-0
– Inj. Cepotoxin 2×1 gr (pagi dan sore) IV, Insulin SC
– IVFD RL 5% 16 tetes/menit.
• Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien pernah masuk RS dengan keluhan panas dingin, kepala pusing.
• Upaya pencegahan : membeli obat diwarung/toko obat dan bila tidak sembuh berobat kepuskesmas terdekat.
• Prosedur bedah tidak pernah.
• Penyakit masa anak-anak batuk pilek.
• Imunisasi tidak lengkap.
• Kebiasaan :
Tembakau : berhenti sejak 5 tahun yang lalu
Alkohol : Tidak pernah
Obat-oabt terlarang tidak pernah.
• Riwayat penyakit keluarga : Diantara anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama seperti klien.
• Riwayat penyakit sosial : Selama di rumah sakit pasien di tunggu suami dan sering dikunjungi teman-temannya, pasien dapat bekerjasama dengan tenaga kesehatan.

2. Pola Nutrisi – Metabolik
• Masukan nutrisi sebelum sakit :
Pagi : Nasi biasa ,ikan, sayur, 1 piring-2 piring.
Siang : Nasi, ikan, sayur, 1 piring-2 piring
Sore : Nasi, ikan, , 1 piring
Makanan Pantangan tidak ada
Kudapan sore minum teh dan kue.
• Saat sakit :
Pagi : Nasi biasa, ikan, tidak dihabiskan.(1/2 porsi yang disajikan) dan minum air putih/teh
Siang: Nasi, ikan, sayur, tidak dihabiskan. (1/2 porsi yang disajikan)
Sore : Nasi, ikan, sayur, tidak dihabiskan. (1/2 porsi yang disajikan)
Nafsu makan menurun.
Kesulitan menelan ( disfagia ) : parsial, tidak menggunakan protesa
Fluktuasi BB 6 bulan terakhir turun ± 5 kg (dari 64 kg menjadi 59 kg)
• Pemeriksaan fisik :
Tanda vital : Tb : 161 cm, BB : 59 kg

Kulit :
• Warna : sawo matang
• Suhu : 36 0c
• Turgor : Baik ( kalau dicubit kembali dalam 1-2 detik )
• Edema : tidak ada
• Lesi : pada ibu jari kaki kanan
• Memar : Tidak ada

Mulut :
• Hygiene: Bersih
• Gusi : Normal
• Gigi : ada caries
• Lidah : Bersih
• Mucosa : Normal
• Tonsil : Normal ( tidak ada peradangan )
• Wicara : Normal ( mampu berkomunikasi dengan baik )

Rambut dan kulit kepala :
Keadaan kulit kepala : Kering dan rambutnya tipis
Warna Rambut : hitam campur uban
Abdomen : Tidak ada nyeri tekan dan kembung tidak ada.

3. Pola Eleminasi
Faeces§
Kebiasaan defekasi : selama di rawat di RS pasien BAB 1 kali/hari.
Pemeriksaan Fisik :§
– Abdomen : Struktur Simetris
Distensi : tidak
– Frekuensi BU 8kali/menit (N=8-12 kali/menut).

Urine : Kebiasaan miksi : Normal, frekuensi 5 x/ hari§
Pemeriksaan Fisik§
Ginjal Tidak teraba , tidak ada nyeri ketuk, distensi tidak ada, uretra normal.
Laboratorium : Tanggal 4 Juli 2002 :§
Urin :
Warna kuning muda
Kejernihan: jernih
PH 5,3
BJ 1020
Albumin (++)
Reduksi (-)
urobilin (-),
Bilirubin (-),
aceton (-),
leukosit 4-8/lpb,
erytrosit (-)/lpb,
kristal (-).
Kristal (-)
Nitrtit (+)

4. Pola Aktivitas dan Latihan
Kemampuan Perawatan Diri :
Mandi dibantu orang lain,
Berpakaian dibantu orang lain,
Toileting dibantu orang lain,
Mobilitas di TT mandiri,
Ambulasi bisa dilakukan sendiri.

Pemeriksaan Fisik :§
a. Penafasan / Sirkulasi
Tanda Vital :v
– Tekanan Darah : 110 / 80 mmHg
– Nadi : 76 x / menit
– respirasi : 20 x / menit
Kualitasnya Normalv
Batuk Tidak adav
Bunyi nafas Normalv
Kelainan tidak ditemukan.v

– Hasil laboratorium tanggal 4 juli 2002
– GDP 145,10
– GD 2 jam PP 286,20
– HB 11,7 gr %
– Leukosit 9.600/mm3
– LED 73 mm/jam I, 99 mm/jam II
– Trombosit 448.000 mm3

b. Muskuloskletal
Rentang gerak : Normalv
Keseimbangan dan cara berjalan : tidak tegapv
Genggaman tangan : sama lemah antara kanan dan kiriv
Otot kaki : sama lemah antara kanan dan kiriv

5. Pola Istirahat dan Tidur
Kebiasaan tidur 9 jam / hari, Jumlahnya siang hanya 2 jam dan pada malam hari 6-7 jamv
Dalam tidur tidak ada masalahv

Pemeriksaan Fisik :v
– Pemampilan umum lemah
– Mata : Normal
– Lingkaran hitam disekitar mata : tidak ada

6. Pola Kognitif – Konseptual
Pendengaran : Normal dan tidak mengguanakan alat bantuv
Penglihatan : Menggunakan kaca matav
Vertigo ; tidak adav
Nyeri : nyeri pada lukav
Pemeriksaan fisikv
• Mata
– Pupil : Isokor
– Reflek terhadap cahaya : kanan dan kiri baik
• Status mental : kesadaran Compos mentis
• GCS 4-5-6
• Bicara : normal
• Skala nyeri : 2 dari 0-5 / sedang

7. Pola Persepsi Diri / Konsep Diri
Masalah Utama mengenai perawatan di RS/Penyakit : tidak ada masalahØ
Keadaan Emosional ; StabilØ
Kemampuan Adaptasi : Tidak ada gangguanØ
Konsep Diri : Tidak ada Gangguan.Ø

8. Pola Koping – Toleransi Stress
Kemampuan daptasi ; baikq
Cara mengambil keputusan : dibantu istriq
Koping strees terhadap masalah : Baikq

9. Pola Nilai – Kepercayaan
Pembatasan religius : Selama dirawat pasien hanya bisa berdo’a, sejak dirawat pasien tidak sholat.q
Klien tidak meminta kunjungan pemuka agamaq
ANALISA DATA

Nama : Tn. R Rumah Sakit : H Damanhuri
Barabai
Umur : 46 tahun Ruang : PDP
DX Medis : DIABETES MELLITUS NO. RMK : 46-04-87
No Data Subyektif / Obyektif Etiologi Masalah
1. S

O
Klien menyatakan sakit pada luka/ ibu jari kaki kanan
Klien tampak meringis
Skala nyeri 2 dari skala 0-5, terdapat luka pada ibu jari kanan.
Trauma Jaringan Nyeri
2. S

O

Pasien mengatakan tidak ada selera makanan
Berat Badan turun 5 kg (dari 64 kg menjadi 59 kg), makanan yang disediakan tidak habis ( hanya 1/2 porsi)
Perubahan metabolisme glukosa, penurunan masukan oral.
Nutrisi kurang dari kebutuhan

3 S

O
Klien mengatakan luka pada ibu jari masih keluar nanah.
Luka / ganggren pada ibu jari kanan, terdapat pus dan agak kehitaman.
Interupsi mekanis pada kulit/ jaringan Kerusakan integritas kulit
4.

5.

S

O

S
O
Pasien mengatakan hanya bisa berdo’a,
Pasien tidak bisa melaksanakan ibadah sholat.


– Penurunan kemauan/ kemampuan sekunder terhadap penyakit.

Insufiensi pengetahuan tentang kondisi, pembatasan diet. Distres spiritual (sholat)

Risiko terhadap inefektif penatalaksaan regimen/ aturan terapeutik

DAFTAR MASALAH

Nama : Tn. R Rumah Sakit : H Damanhuri
Barabai
Umur : 46 tahun Ruang : PDP
DX Medis : DIABETES MELLITUS NO. RMK : 46-04-87
No Dx. keperawatan Tgl. Muncul Tgl. Teratasi
1 Nyeri sehubungan dengan Trauma Jaringan ditandai dengan Klien menyatakan sakit pada luka/ ibu jari kaki kanan, Klien tampak meringis
Skala nyeri 2 dari skala 0-5, terdapat luka pada ibu jari kanan 4 Maret 2003
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan sehubungan dengan Perubahan metabolisme glukosa, penurunan masukan oral ditandai Pasien mengatakan tidak ada selera makanan
Berat Badan turun 5 kg (dari 64 kg menjadi 59 kg), makanan yang disediakan tidak habis ( hanya 1/2 porsi). 4 Maret 2003

3

Kerusakan integritas kulit s/d Interupsi mekanis pada kulit/ jaringan ditandai dengan Klien mengatakan luka pada ibu jari masih keluar nanah, Luka / ganggren pada ibu jari kanan, terdapat pus dan agak kehitaman. 4 Maret 2003

4.

5.

Distres spiritual (sholat) sehubungan dengan Penurunan kemauan/ kemampuan sekunder terhadap penyakit di tandai dengan Pasien mengatakan hanya bisa berdo’a, tidak bisa melaksanakan ibadah sholat, Pasien tidak melaksanakan sholat .

Risiko terhadap inefektif penatalaksaan regimen/ aturan terapeutik sehubungan dengan Insufiensi pengetahuan tentang kondisi, pembatasan diet. 4 Maret 2003

4 Maret 2003

ASUHAN KEPERAWATAN
Nama : Tn. H Rumah Sakit Umum Daerah BAnjarbaru
Umur : 58 tahun Ruang : Kasuari
DX Medis : DIABETES MELLITUS NO. RMK : 03 07 76
No Diagnosa Keperawatan R e n c a n a Implementasi
Tujuan Intervensi Rasional
1 Nyeri sehubungan dengan Trauma Jaringan ditandai dengan Klien menyatakan sakit pada luka/ ibu jari kaki kanan, Klien tampak meringis
Skala nyeri 2 dari skala 0-5, terdapat luka pada ibu jari kanan – Nyeri teratasi dengan kriteria :
– Klien nampak rileks/ tidak meringis, skala nyeri 0 dari skala 0-5 1. Dorong klien untuk melaporkan adanya nyeri
2. Kaji ulang faktor-faktor yang menghilangkan atau meningkatkan nyeri.

3. Beri tindakan nyaman dengan mengompres luka dan mengeluarkan pus.

4. Kolaborasi :beri obat sesuai indikasi
1. Mencoba untuk mentoleransi nyeri

2. Dapat menunjukan dengan tepat pencetus atau faktor yang memperberat nyeri .

3. Meningkatkan relaksasi dan memfokuskan kemabali perhatian serta meningkatkan kemampuan koping

4. Nyeri bervariasi dari yang ringan sampai yang berat dan perlu penanganan untuk memper mudahkan istirahat dan penyembuhan. 1. Menganjurkann klien untuk melaporkan bila serangan nyeri datang.
2. Mengkaji ulang faktor yang mengurangi atau memperberat nyeri

3. Mengompres luka dengan rivanol dan mengeluarkan pus agar tidak terjadi distensi jaringan setempat yang menimbulkan nyeri, kemudian luka ditutup untuk mencegah perluasan infeksi.

4. Memberikan obat analgetik (tramal 1 tab) dan antibiotik/ inj. Cepotoxin 1 gr/iv.

2 Nutrisi kurang dari kebutuhan sehubungan dengan Perubahan metabolisme glukosa, penurunan masukan oral ditandai Pasien mengatakan tidak ada selera makanan Berat Badan turun 5 kg (dari 64 kg menjadi 59 kg), makanan yang disediakan tidak habis (hanya 1/2 porsi). Menunjukan jumlah kalori atau nutrien yang tepat. 1. Timbang BB setiap hari/sesuai indikasi.

2. Tentukan program diet dan pola makanan yang dapat dihabiskan.

3. Beri makan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah mentoleransinya melalui pemberian cairan melalui oral.

4. Identifikasi makanan yang disukai/dikehendaki pasien.

5. Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan ini sesuai dengan indikasi.

6. Kolaborasi : pantau pemeriksaan gula darah,pH.

7. Kolaborasi: beri Insulin secara teratur.

8. Kolaborasi : Lakukan konsultasi dengan ahli diet. 1. Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat.
2. Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik.
3. Pemberian makanan melalui oral lebih baik jika pasien sadar dan fungsi gastrointestinal baik.

4. Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukan dalam perencanaan makan, kerja sama ini dapat diupayakan setelah pulang.
5. Meningkatkan rasa keterlibatannya, memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien.
6. Gula darah akan menurun perlahan dengan penggantian cairan dan terapi insulin terkontrol. Pemberian insulin dosis optimal, glukosa dapat masuk dalam sel dan digunakan untuk sumber kalori.
7. Insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu meminimalkan glukosa kedalam sel.
8. sangat bermanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien. 1. Menimbang BB hasil 59 kg.

2. Menentukan program diet dan pola makanan yang dapat dihabiskan pasien.

3. Memberikan makan, cairan dan elekrolit melaui oral.

4. Mengidentifikasi makanan yang disukai/ dikehendaki pasien sesuai indikasi.

5. Melibatkan keluarga pasien pada perencanaan makanan sesuai indikasi.

6. Kolaborasi : Memantau pemeriksaan kadar gula darah puasa 145,10, pH urin 5,3.

7. Kolaborasi: Memberikan inj. Insulin sesuai indikasi dan terapi dokter.

8. Kolaborasi : Melakukan konsultasi dengan bagian/ahli gizi.

3. Kerusakan integritas kulit s/d Interupsi mekanis pada kulit/ jaringan ditandai dengan Klien mengatakan luka pada ibu jari masih keluar nanah, Luka / ganggren pada ibu jari kanan, terdapat pus dan agak kehitaman. . Mencapai penyembuhan luka / ganggren dan mencegah komplikasi.
1. Beri penguat pada balutan awal/ pengganti sesuai indikasi. Gunakan teknik aseptik yang ketat.

2. Secara hati-hati lepaskan perekat dan pembalut pada waktu mengganti.

3. Lakukan nekrotomi pada jaringan yang mati

4. Kaji jumlah dan karakteristik cairan luka.

5. Ingatkan pada pasien untuk tidak memegang daerah luka 1. Lindungi luka dari perlukaan mekanis dan kontaminasi. Mencegah akumulasi cairan yang dapat menyebabkan eksskoriasi.
2. Mengurangi risiko trauma kulit dan gangguan pada luka.

3. Agar tidak menyebar kejaringan yang sehat.

4. Menurunnya cairan menandakan adanya evolusi dari proses penyembuhan.
5. Mencegah kontaminasi luka.

1. Memberi penguat pada balutan awal/ pengganti sesuai indikasi. Gunakan teknik aseptik yang ketat.

2. Secara hati-hati lepaskan perekat dan pembalut pada waktu mengganti.

3. Melakukan nekrotomi pada jaringan yang mati.

4. Mengkaji jumlah dan karakteristik cairan luka

5. Mengingatkan pada pasien untuk tidak memegang daerah luka

4.

5.

Pembatasan spiritual (sholat) sehubungan dengan Penurunan kemauan/ kemampuan sekunder terhadap penyakit di tandai dengan Pasien mengatakan hanya bisa berdo’a, tidak bisa melaksanakan ibadah sholat, Pasien tidak melaksanakan sholat .

Risiko terhadap inefektif penatalaksaan regimen/ aturan terapeutik sehubungan dengan Insufiensi pengetahuan tentang kondisi, pembatasan diet.

Tidak ada pembatasan dalam melakukan ibadah sholat.

Menunjukan kriteria hasil yang berkaitan dengan perencanaan pulang.

1. Motivasi untuk tetap melakukan ibadah.

2. Motivasi pada keluarga untuk memberikan dorongan moril.

3. Motivasi untuk melakukan ibadah sesuai dengan kondisi orang sakit.

1. Kaji pengetahuan dan pemahaman pasien mengenai kebutuhan pengobatan dan juga konsekuensi pengobatan

2. Kaji sistim pendukung yang tersedia bagi pasien.

3. Diskusikan terapi obat-obatan meliputi penggunaan resep dan obat analgetik yang dijual bebas.

4. Ulangi pentingnya diet nutrisi dan pemasukan cairan yang adekuat.

5. Berikan penyuluhan kesehata tentang nutrisi dan faktor pencetus yangn bisa menimbulkan kekambuhan 1. Dorongan dari luar (petugas) mungkin membantu dalam memotivasi pasien untuk melakukan ibadah,
2. Dorongan moril dari orang terdekat (suami) mungkin sangat membantu pasien.
3. Mungkin membantu pasien dalam memenuhi kegiatan spiritual/ ibadah.

1. Memberikan kesempatan untuk menjelaskan sudut pandang memastikan bahwa pasien memiliki informasi yang akurat untuk membuat pilihan.
2. Adanya keluarga atau orang terdekat yang memperhatikan atau peduli dapat membantu pasien dalam proses penyembuhan.
3. Meningkatkan kerja sama dan regimen, mengurangi risiko reaks atau efek yang merugikan

4. Sediakan elemen yang dibutuhkan untuk penyembuhan dan mendukung perpusi jaringan dan fungsi organ
5. Membantu agar pasien dapat meningkatkan kesehatan serta mencegah agar tidak terjadi kekambuhan.
1. Memotivasi untuk tetap melakukan ibadah.

2. Memotivasi pada keluarga untuk memberikan dorongan moril.

3. Memotivasi untuk melakukan ibadah sesuai dengan kondisi orang sakit

1. mengkaji pengetahuan dan pemahaman pasien mengenai kebutuhan pengobatan dan juga konsekuensi pengobatan

2. Mengkaji sistim pendukung yang tersedia bagi pasien.

3. Mendiskusikan terapi obat-obatan meliputi penggunaan resep dan obat analgetik yang dijual bebas.

4. Mengulangi pentingnya diet nutrisi dan pemasukan cairan yang adekuat.

5. Memberikan penyuluhan kesehata tentang nutrisi dan faktor pencetus yangn bisa menimbulkan kekambuhan.

DATA PERKEMBANGAN

Nama : Tn. H Rumah Sakit : RSUD BB
Umur : 58 tahun Ruang : Kasuari
DX Medis : DIABETES MELLITUS NO. RMK : 00 37 76

NO TGL/
JAM DIAGNOSA
KEPERAWATAN PERKEMBANGAN
1

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8. 4 Maret 2003
Jam 18:00 wita

4 Maret 2003
Jam 18:00 wita

4 Maret 2003
Jam 18:00 wita

4 Maret 2003
Jam 18:00 wita

4 Maret 2003
jam 18.45

4 Maret 2003
jam 18.45

5-5-2004 jam 18.45

5-5-2004 jam 18.45

I

II

III

IV

I

III

IV

S

O

A
P
I

E

S

O

A
P
I

E

S
O

A
P
I

E

S

O
A
P
I

E

S

O

A
P
I
E

S

O
A
P
I

E

S
O

A
P
I

E

S

O
A
P
I

E

Kien mengatakan sakit pada luka mulai berkurang.
Skala nyeri 1 dari 0-5, kadang-kadang masih terlihat meringis saat menggerakan kaki kanan.
Masalah teratasi sebagian
Lanjutkan Intervensi 1,2,3,4.
1. Menganjurkann klien untuk melaporkan bila serangan nyeri datang.
2. Mengkaji ulang faktor yang mengurangi atau memperberat nyeri
3. Mengompres luka dengan rivanol dan mengeluarkan pus agar tidak terjadi distensi jaringan setempat yang menimbulkan nyeri, kemudian luka ditutup untuk mencegah perluasan infeksi.
4. Memberikan obat analgetik (tramal 1 tab) dan antibiotik (amoxsan 1 tab)
Pasien mengatakan nyeri agak berkurang.

Pasien mengatakan sudah bisa menghabiskan ½ porsi makan yang diberikan oleh RS dan kue / roti tawar.
Makan yang disajikan sisa ½ porsi.

Masalah teratasi sebagian
Intervensi diteruskan
1. Menimbang BB hasil 59 kg.
2. Menentukan program diet dan pola makanan yang dapat dihabiskan pasien.
3. Memberikan makan, cairan dan elekrolit melaui oral.
4. Mengidentifikasi makanan yang disukai/ dikehendaki pasien sesuai indikasi.
5. Melibatkan keluarga pasien pada perencanaan makanan sesuai indikasi.
6. Kolaborasi : Memantau pemeriksaan kadar gula darah, aseton, pH.
7. Kolaborasi: Memberikan inj. Insulin sesui indikasi dan terapi dokter.
8. Kolaborasi : Melakukan konsultasi dengan bagian/ahli gizi.
Pasien mengatakan nafsu makannya mulai membaik.


Luka/ ganggren pada tibu jari kanan, luka agak kehitaman dan terdapat pus
Masalah belum teratasi
Pertahankan intervensi
1. Memberi penguat pada balutan awal/ pengganti sesuai indikasi. Gunakan teknik aseptik yang ketat.

2. Secara hati-hati lepaskan perekat dan pembalut pada waktu mengganti, lakukan penekanan pada daerah luka untuk mengeluarkan pus.
3. Melakukan nekrotomi pada jaringan yang mati.
4. Mengkaji jumlah dan karakteristik cairan luka/pus yang keluar.
5. Mengingatkan pada pasien untuk tidak memegang daerah luka
Kerusakan integritas kulit tidak meluas.

Pasien mengatakan dirinya tidak mampu melaksanakan ibadah sholat karena merasa lemah dan merasa dirinya kurang bersih.
Pasien belum melaksanakan sholat
Masalah belum teratasi
Pertahankan intervensi
1. Memotivasi untuk tetap melakukan ibadah.
2. Memotivasi pada keluarga (suami) untuk memberikan dorongan moril.
3. Memotivasi untuk melakukan ibadah sesuai dengan kondisi orang sakit
Klien mengatakan akan mencoba melaksanakan ibadah sholat sesuai kemampuannya.

Klien mengatakan luka tidak lagi terasa nyeri.
Ekspresi klien tampak tenang. Skala nyeri 0 dari 0-5
Masalah teratasi


Tujuan berhasil

Klien mengatakan dapat menghabiskan ¾ dari porsi makanan yang disajikan.
Makanan yang disajikan tinggal sedikit.
Masalah teratasi sebagian.
Lanjutkan intervensi 1,4,5
– Menimbang BB hasil 64 kg.
– Mengidentifikasi makanan yang disukai/ dikehendaki pasien sesuai indikasi.
– Melibatkan keluarga pasien pada perencanaan makanan sesuai indikasi
Klien mau makan makanan yang dibawa dari rumah sesuai anjuran perawat.


Luka/ ganggren pada ibu jari kanan, luka terlihat kering dan pus berkurang.
Masalah teratasi sebagian
Pertahankan intervensi
1. Memberi penguat pada balutan awal/ pengganti sesuai indikasi. Gunakan teknik aseptik yang ketat.
2. Secara hati-hati lepaskan perekat dan pembalut pada waktu mengganti, lakukan penekanan pada daerah luka untuk mengeluarkan pus.
3. Melakukan nekrotomi pada jaringan yang mati.
4. Mengkaji jumlah dan karakteristik cairan luka/pus yang keluar.
5. Mengingatkan pada pasien untuk tidak memegang daerah luka
Kerusakan integritas kulit tidak meluas.

Klien mengatakan dapat melaksanakan sholat walaupun tidak tunai 5 waktu (hanya sholat ashar dan magrib).
Klien melaksanakan sholat ashar dan magrib dengan cara duduk.
Masalah teratasi sebagian.
Lanjutkan intervensi
1. Memotivasi untuk tetap melakukan ibadah.
2. Memotivasi pada keluarga (suami) untuk memberikan dorongan moril.
3. Memotivasi untuk melakukan ibadah sesuai dengan kondisi orang sakit
Klien melaksanakan sholat ashar dan magrib dengan cara duduk.

Diposkan oleh Heri Saputra di Jumat, April 02, 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 Komentar

2 thoughts on “Diabetes Melitus Dan Askep Diabet Militus (DM)

  1. pak.. izin bertanya boleh saya minta daftar pustakanya. atau bapak bisa mengirim ke email saya file aslinya. mohon bantuannya pak. trimaksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s