Sakit Pinggang ( HNP)

Sering Nyeri pada Pinggang? Hati-hati HNP!

 

Teman-teman kompasiana, jujur saja ya..seminggu yang lalu, setelah saya tahu bahwa pelatih FC Barcelona(nama klub sepakbola) Pep Guardiola, mengalami cedera pada punggung bagian bawahnya karena penyakit yang bernama Disc Hernia atau Hernia Nukleus Pulposus, saya langsung menyusuri google untuk mencaritahu penyakit apa itu(baru pertama kali denger sih,hadoooh payah nih ida!). Setelah berlama-lama di depan komputer..akhirnya saya menemukan jawaban tentang penyakit yang sudah membuat Pep harus dirawat di Rumah Sakit selam lima hari. Sebelum saya bebagi, mohon maaf kalau informasinya masih kurang lengkap atau ada kesalahan, jika ada teman-teman yang dapat menambahkan, hatur nuhuuun;)

Apa sih HNP itu?

Sebelum teman-teman tahu tentang HNP, saya jelaskan dulu ya tentang anatomi tulang belakang. Tulang belakang tersusun atas ruas-ruas tulang yang dihubungkan menjadi satu kesatuan melalui persendian, mulai dari daerah leher sampai tulang ekor. Ruas tulang yang di atas dihubungkan dengan ruas di bawahnya oleh sebuah bantalan yang disebut diskus intervertebralis (persendian pada tulang belakang). Gambar bisa dilihat di bawah ini..

Di dalam bantalan ruas tulang belakang tersebut, terdapat suatu bahan pengisi seperti jeli kenyal yang disebut nukleus pulposus. Bantalan tersebut berfungsi seperti “shock breaker” (peredam getaran) dan memungkinkan tulang belakang dapat bergerak lentur. Gambarnya kira-kira seperti ini..

 

Nah, jika nukleus pulposus tersebut keluar dari dalam bantalan melalui dinding bantalan yang lemah, maka nukleus pulposus masuk ke dalam rongga ruas tulang belakang; keadaan inilah yang disebut Hernia Nukleus Pulposus (HNP) atau bahasa gaulnya sih “urat terjepit”. Tergantung besar kecilnya, HNP dapat menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang dan saraf tepi. Contoh gambar HNP yang dapat menekan urat saraf seperti ini..

 

Apa gejalanya  jika kita terkena  HNP?

HNP ditandai dengan nyeri yang bersifat menusuk tajam seperti ‘nyeri gigi’ pada bagian bawah pinggang yang menjalar ke lipatan bokong, tepat di pertengahan garis tersebut. Dari titik ersebut sampai ke lipatan lutut terasa ‘ngilu’, sementara dari lutut menuju jari kaki ke 4 atau 5 penderita merasa ‘kurang enak’, atau kesemutan. Nyeri tersebut umumnya dirasakan pada sebelah kaki.

Kelanjutan dari nyeri akan berdampak pada kekakuan otot yang mengakibatkan penampakan struktur pinggul & tungkai yang terkena menjadi tidak sama dengan yang sehat di sebelahnya. Sebagai gejala lanjutannya, disadari atau tidak..gerakan pada arah tertentu menjadi sangat terbatas dan tidak mampu melakukan mobilisasi tubuh secara normal.

Jika teman-teman mengalami gejala-gejala seperti di atas, ada baiknya segera periksakan diri ke dokter. Selain pemeriksaan fisik & riwayat penyakit, pemeriksaan penunjang seperti foto tulang belakang (spine x-ray), CT scan atau pemeriksaan yang menjanjikan hasil yang lebih informatif lagi yaitu dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Mengapa kita bisa terkena HNP?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya HNP, diantaranya ; karena trauma (jatuh, terbentur, gerakan yang tiba-tiba cepat, dll), sering mengangkat beban atau mengangkat tekanan yang berlebihan, merokok, batuk yang lama dan terus menerus, tekanan pada tulang belakang, sering menyetir dalam waktu yang lama, berat badan berlebihan, gaya hidup yang bermalas-malasan, sikap duduk yang salah, dan usia lanjut.

Koq bisa ya usia lanjut kena HNP?Hmm.. ternyata ini karena cairan pada ruang antar ruas tulang belakang dari tahun ke  tahun semakin berkurang. Hal ini dapat menimbulkan habisnya cairan tersebut & mengakibatkan terjepitnya saraf pada tulang belakang.

Pria dan wanita memiliki resiko yang sama dalam mengalami HNP lho, dan rata-rata penderita HNP berusia antara usia 30 sampai 50 tahun(pantes..Om pep kan udah 40 tahun..aduh,maaf ngelantur!). Biasanya bagian tulang belakang yang paling sering terkena HNP adalah pinggang (lumbal). Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan HNP terjadi di tulang belakang leher atau dada.

Bagaimana cara pengobatannya jika kita terkena HNP?

Apakah penderita HNP harus dioperasi?ternyata tidak. Hanya penderita HNP yang sudah berkali-kali kumat dan sembuh kembali selama beberapa bulan atau tahun harus menjalani tindakan operatif. Biasanya orang yang baru pertama kali menderita HNP, dianjurkan untuk terapi konservatif (sepertinya penyakit Om Pep masih tahap ini deh,hehehe..ngelatur lagi!). Beberapa terapi konservatif adalah :

  1. Istirahat mutlak di tempat tidur, dalam arti penderita tidak boleh bangun untuk mandi & makan. Masa istirahat mutlak dapat ditentukan sesuai dengan tercapainya perbaikan
  2. Obat penghilang nyeri
  3. Selama nyeri belum hilang dilakukan fisioterapi
  4. Olahraga berenang yang dilakukan secara teratur (2-3 kali seminggu antara 1/2 sampai 1 jam), lumayan membantu dalam penyembuhan HNP

Dalam tahap seperti apa biasanya dibutuhkan operasi?

Operasi dilakukan bila terjadi gangguan pada kerja saraf bagian bawah tulang belakang, seperti gangguan terhadap proses buang air kecil atau besar. Dapat juga bila terjadi kelemahan otot, otot yang mengecil tidak sesuai dengan yang sehat di sisi lainnya atau bahkan terjadi pembengkokan tulang belakang sebagai kompensasi tubuh terhadap nyeri. Operasi harus pula dipertimbangkan pada keadaan baal, tidak merasakan sensasi disekitar lubang anus & bokong, juga pada kondisi nyeri yang menjalar di belakang paha yang dirasakan sudah lebih dari 6 bulan.

Cara mencegah HNP?

‘Mencegah lebih baik daripada mengobati’, itulah yang sering kita baca dalam spanduk atau selebaran di Rumah Sakit,hehe..tapi memang benar koq!Untuk menghindari agar kita tidak terkena HNP..ada baiknya kita mengubah cara hidup dangan menghindari faktor-faktor penyebab HNP seperti yang telah disebutkan di atas.

Beberapa cara yang dapat digunakan adalah mengontrol berat badan sehingga tekanan pada tulang belakang tidak berat, juga duduk dengan sikap tubuh yang benar. Bagi orang yang sering mengangkat barang berat, kadang dapat digunakan korset untuk membantu menopang tulang belakang & mencegah terjadinya kerusakan saraf.

Demikian penjelasan tentang HNP yang dapat saya uraikan. Semoga dapat bermanfaat & tidak ada di antara teman-teman kompasiana yang terkena penyakit ini. Ingat,MENCEGAH LEBIH BAIK DARI PADA MENGOBATI🙂.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pernah mendengar atau merasakan langsung nyeri pada pinggang secara tiba-tiba ketika berusaha mengangkat beban berat? Atau mungkin nyeri pinggang yang tidak diketahui dengan jelas penyebabnya? Banyak hal bisa mengakibatkan nyeri pada bagian belakang bawah tubuh kita. Di kalangan medis, secara umum keluhan ini disebut LBP (Low Back Pain). Nyeri ini bisa dikarenakan kekakuan atau cedera terbatas pada otot dan struktur sendi lainnya, karena proses peradangan di dalam rongga tulang panggul, proses sumbatan pada saluran kemih atau pun cidera yang langsung mengenai saraf yang ada di sekitar lokasi tersebut. HNP menjadi salah satu dari kelainan yang juga awalnya dirasakan nyeri pada areal sekitar pinggang.

Apa itu HNP ?

HNP kependekan dari Hernia Nucleus Pulposus, suatu gangguan akibat merembes atau melelehnya (hernia) lapisan atau bantalan permukaan ruas tulang belakang (nucleus pulposus) dari ruang antar ruas tulang (discus intervertebralis).

Bagaiman membedakan dengan nyeri pinggang oleh penyebab lainnya?

Nyeri oleh karena HNP yang menjepit saraf rasanya lebih menggigit, terasa seperti terbakar atau seperti terkena sengatan listrik. Dirasakan menjalar ke bagian bawah dan jika lebih parah lagi akan terasa nyerinya dari belakang paha menyebar ke bagian bawah hingga betis pada satu sisi. Nyeri dapat timbul setiap saat tidak terbatas apakah sedang beraktifitas atau lagi istirahat. Berbeda dengan nyeri akibat gangguan di saluran kemih. Jika hambatan ada di ginjal, nyeri terasa lebih di atas pinggang, kemeng dan penderita merasa sebatas tidak nyaman saja. Kalau hambatan berada di dalam saluran bagian bawahnya bisa menimbulkan nyeri kolik, kumat-kumatan, saat parah hingga menimbulkan muntah dan susah melokalisir asal nyeri. Nyeri karena peradangan organ bagian dalam, akan tersebar ke bagian perut bawah dan bertambah jika disentuh atau ditekan. Waktu munculnya nyeri relatif lebih konstan. Pada tahap yang lebih ringan, bisa juga dibedakan dengan nyeri akibat kekakuan atau hanya pegal pegal pada otot pinggang.

Apa saja gejala yang lain?

Disamping nyeri, penderita dapat juga merasakan kesemutan (parestesia) hebat dan jelas terasa bertambah nyeri jika disentuh pada bagian tulang belakang yang mengalami proses herniasi tersebut. Kelanjutan dari nyeri akan berdampak pada kekakuan (spasme) otot yang mengakibatkan penampakan struktur pinggul dan tungkai yang terkena menjadi tidak sama dengan yang sehat di sebelahnya. Hal ini disebut deformitas. Sebagai gejala ikutannya juga, disadari atau pun tidak gerakan pada arah tertentu menjadi sangat terbatas dan tidak mampu melakukan mobilisasi tubuh secara normal. Pada pemeriksaan neurologis didapatkan kelemahan otot, perubahan reflek dan terganggunya kerja saraf sensoris.

Bagaimana untuk memastikannya?.

Dengan pemeriksaan penunjang. Sebagai langkah awal dibutuhkan rontgen atau foto x-ray untuk screening mencari kemungkinan adanya pergeseran atau struktur ruas tulang belakang yang tidak normal. Berikutnya, pada lokasi yang dicurigai akan disuntikkan cairan kontras untuk memperjelas pada bagian mana terjadi proses jepitan saraf. Pemeriksaan mielo-radikulografi ini tidak senyaman pemeriksaan sebelumnya karena ada prosedur memasukkan cairan tadi. Yang lebih non invasif dan jika fasilitasnya ada, para dokter saat ini lebih memilih untuk dilakukan pemeriksaan CT scan dan pemeriksaan yang menjanjikan hasil lebih informatif lagi yakni dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Apa dan bagaimana itu terjadi?

Oleh karena suatu trauma (jatuh, terbentur, gerakan yang tiba-tiba cepat dan lainnya) atau oleh karena proses ketuaan membuat lapisan permukaan ruas tulang belakang menjadi tergesek, mengakibatkan struktur mengandung sel gellatin yang lentur dan kenyal itu (nucleus pulposus) mengalami cedera. Lapisan kolagen ini bisa dibayangkan menyerupai bagian yang kenyal yang melapisi tulang belakang sapi kalau kita lagi menyantap sop buntut -bagi yang doyan makanan ini-. Lama kelamaan bagian ini kemudian merembes membentuk tonjolan (protrusio) ke luar dari ruang antar ruas tulang yang akhirnya menekan struktur yang berada di dekat tonjolan tadi. Lebih sering kejadian rembesan atau tonjolan ini ke arah samping belakang, dimana di bagian itu sebagai tempat keluarnya akar saraf yang berasal dari batang saraf yang lebih besar (medulla spinalis) di dalam sumsum tulang belakang. Terjadi pula pada kasus yang lebih jarang proses ini di susunan ruas tulang leher (cervical). Bisa dibayangkan, semakin banyak lapisan kolagen yang merembes ke luar, semakin tertekan saraf yang berjalan di sekitarnya dan semakin nyeri anggota gerak di bagian bawah lokasi hernia yang dirasakan penderita.

Apakah bisa disembuhkan tanpa operasi?

Masih bisa! Pada fase akut, penderita disarankan istirahat dalam 1-2 minggu, tidur dengan alas keras, dapat menggunakan jaket khusus dan selain obat-obat yang diminum bisa juga disuntikkan obat pereda nyeri kuat yang disuntikkan langsung pada rongga tempat berjalannya saraf di dekat lokasi nyeri atau epidural injeksi. Pada fase subakut dan kronis perlu fisiotherapi untuk gerakan meregang dan menekuk beserta pemanas / diatermi, akan lebih baik lagi menggunakan korset penyangga pinggang dan latihan gerak dengan bertahap dan hati-hati. Pada penanganan fisiotherapi lebih ditekankan pada gerak regangan yang harus dikerjakan secara teratur dan berkesinambungan.

Bilamana kelainan ini membutuhkan operasi?

Bila terjadi gangguan pada kerja saraf bagian bawah tulang belakang, seperti gangguan terhadap proses buang air besar maupun kencing. Bila terjadi kelemahan otot, otot yang mengecil tidak sesuai dengan yang sehat di sisi lainnya atau bahkan terjadi pembengkokan tulang belakang sebagai kompensasi tubuh terhadap nyeri. Operasi harus pula dipertimbangkan pada keadaan baal, tidak merasakan sensasi di sekitar lobang anus dan bokong dan pada kondisi nyeri yang menjalar di belakang paha (skiatika) yang dirasakan sudah lebih dari 6 bulan.

Apa yang dikerjakan dan bagaimana teknik operasi itu?

Tujuan operasi adalah untuk membebaskan desakan atau jepitan jaringan kollagen terhadap saraf yang melintas di sekitarnya, biasanya di satu sisi, kiri atau kanan. Sejauh ini ada 2 teknik untuk mengerjakan prosedur ini, selain secara konvensional dengan pembedahan terbuka ada juga dengan yang lebih canggih menggunakan cara minimal invasive. Minimal invasive surgery lebih unggul karena tidak memerlukan torehan panjang di bagian tengah punggung pasien disamping juga dapat meminimalisir kerusakan jaringan tubuh di sekitar areal operasi.

 

4 Komentar

4 thoughts on “Sakit Pinggang ( HNP)

  1. maksh atas infonya,sngat brmanfaat skali,krn semalam saya dr Dr.saraf dan Dr memberi tahu bhwa saya trkena HNP,pdahal dlhat dr rwayt hdup saya tdk pernah jtuh atopun mengalami kecelakaan.dan usia saya bru 26(blm manula lho),yg saya rasakan trasa ngilu dbgian tlng bntut blakang hingga ke tlng pinggul sblah kiri,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s